BAB
I. PENDAHULUAN
Petrologi
adalah ilmu yang mempelajari tentang batuan, baik keterdapatannya maupun cara
terbentuknya dipermukaan bumi yang mencakup mengenai cara terjadinya,
komposisi, klasifikasi batuan serta hubungannya dengan proses-proses dan
sejarah geologinya.
Kerak
bumi bersifat dinamis dan merupakan tempat berlangsungnya proses pembentukan
batuan. Karena sifatnya yang dinamis tersebutlah banyak proses-proses lain yang
mempengaruhi batuan tersebut sehingga suatu batuan dapat berubah menjadi batuan
lain atau merupakan suatu siklus yang berkesinambungan yang prosesnya masih
berlangsung hingga sampai saat ini. Semua batuan yang ada di permukaan bumi
akan mengalami pelapukan. Penyebab pelapukan tersebut ada 3 macam:
1.
Pelapukan secara fisika: perubahan suhu panas
ke dingin dan sebaliknya akan berpengaruh terhadap batuan. Hujan dapat membuat
rekahan-rekahan di batuan menjadi berkembang sehingga membuat batuan pecah
menjadi partikel yang lebih kecil.
2.
Pelapukan secara kimia: Bahkan air pun
dapat bereaksi melarutan beberapa jenis batuan. Udara yang terpolusi dapat
menyebabkan “hujan asam” yang dapat menyebabkan pelapukan batuan secara
kimiawi.
3.
Pelapukan secara biologi: Pelapukan yang
disebabkan oleh gangguan dari akar tanaman. Akar-akar dapat menyebabkan
timbulnya rekahan-rekahan di batuan dan lama kelamaan batuan akan terpecah
menjadi partikel-partikel yang lebih kecil.
Petrologi adalah
bidang geologi yang berfokus pada studi mengenai batuan dan kondisi
pembentukannya. Ada tiga cabang petrologi, berkaitan dengan tiga tipe batuan:
beku, metamorf, dan sedimen. Kata petrologi itu sendiri berasal dari kata
Bahasa Yunani petra, yang berarti "batu".
Petrologi batuan
beku berfokus pada komposisi dan tekstur dari batuan beku (batuan seperti
granit atau basalt yang telah mengkristal dari batu lebur atau magma). Batuan
beku mencakup batuan volkanik dan plutonik
Petrologi memanfaatkan bidang klasik mineralogi, petrografi mikroskopis,
dan analisa
kimia untuk menggambarkan komposisi dan tekstur batuan. Ahli petrologi modern juga menyertakan prinsip geokimia dan geofisika dalam penelitan
kecenderungan dan siklus geokimia dan penggunaan data
termodinamika dan eksperimen untuk lebih mengerti asal
batuan. Petrologi eksperimental menggunakan perlengkapan
tekanan tinggi, suhu tinggi untuk menyelidiki geokimia
dan hubungan fasa dari material alami dan sintetis pada tekanan dan suhu yang ditinggikan. Percobaan tersebut khususnya berguna utuk
menyelidiki batuan pada kerak bagian atas dan mantel
bagian atas yang jarang bertahan dalam perjalanan kepermukaan
pada kondisi asli.
Mineralogi merupakan ilmu
bumi
yang berfokus pada sifat kimia,
struktur kristal,
dan fisika (termasuk optik)
dari mineral.
Studi ini juga mencakup proses pembentukan dan perubahan mineral. Pada awalnya, mineralogi lebih
menitikberatkan pada sistem
klasifikasi mineral pembentuk batuan. International
Mineralogical Association merupakan suatu organisasi yang beranggotakan
organisasi-organisasi yang mewakili para ahli mineralogi dari masing-masing
negara. Aktivitasnya mencakup mengelolaan penamaan mineral (melalui Komisi
Mineral Baru dan Nama Mineral), lokasi mineral yang telah diketahui, dsb.
Sampai dengan 2004 telah terdapat lebih dari 4000 spesies
mineral yang diakui oleh IMA. Dari kesemua itu, 150 dapat digolongkan “umum”,
50 lainnya “kadang-kadang”, dan sisanya “jarang” sampai “sangat jarang”
Belakangan
ini, dangan disebabkan oleh perkembangan teknik eksperimental (seperti defraksi neutron)
dan kemampuan komputasi yang ada, telah memungkinkan simulasi prilaku kristal
berskala atom dengan sangat akurat, ilmu ini telah berkembang luas hingga
mencakup permasalahan yang lebih umum dalam bidang kimia
anorganik dan fisika padat.
Meskipun demikan, bidang ini tetap berfokus pada struktur kristal yang umumnya
dijumpai pada mineral pembentuk batuan (seperti pada perovskites,
mineral lempung
dan kerangka silikat).
Secara khusus, bidang ini telah mencapai kemajuan mengenai hubungan struktur
mineral dan kegunaannya; di alam, contoh yang menonjol berupa akurasi
perhitungan dan perkiraan sifat elastic mineral, yang telah membuka pengetahuan
yang mendalam mengenai prilaku seismik
batuan dan ketidakselarasan yang berhubungan dengan kedalaman pada seismiogram
dari mantel bumi.
Sehingga, dalam kaitannya dengan hubungan antara fenomena berskala atom dan
sifat-sifat makro, ilmu mineral
(seperti yang umumnya diketahui saat ini) kemungkinan lebih berhubungan dengan ilmu
material daripada ilmu lainnya.
BAB
II. HASIL
1. BATUAN
DIABAS
Secara kasat mata :
-
Kilapan
: kilapan pada batu diabas yaitu mengkilat seperti pecahan kaca kecil
-
Warna
: batu diabas dilihat secara kasat mata berwarna hitam, putih, coklat dan
abu-abu
-
Struktur
: terlihat seperti pasir-pasir halus
-
Tekstur
: tekstur pada batuan ini terlihat kasar, dan terdapat bintik-bintik mengkilat
berwarna abu-abu
Dilihat dengan microskop :
-
Kilapan
: terlihat mengkilat
-
Warna
: pada saat dilihat menggunakan microskop batuan ini terlihat berwarna hitam
seperti arang, putih, abu-abu, coklat, kuning keemasan
-
Struktur
: berpasir, terdapat butiran-butiran kaca kecil seperti kristal
-
Tekstur
: kasar

Gambar batu diabas
Warna
batuan beku berkaitan erat dengan komposisi mineral penyusunnya. Mineral
penyusun batuan tersebut sangat dipengaruhi oleh komposisi magma asalnya,
sehingga dari warna dapat diketahui jenis magma pembentuknya, kecuali untuk
batuan yang mempunyai tekstur gelasan.Batuan beku yang berwarna cerah umumnya
adalah batuan beku asam yang tersusun mineral-mineral felsik,misalnya kuarsa, potash
feldsfar dan muskovit. Batuan beku yang
berwarna gelap sampai hitam umumnya batuan beku intermediet diman jumlah
mineral felsik dan mafiknya hampir sama banyak. Batuan beku yang
berwarna hitam kehijauan umumnya adalah batuan beku basa dengan mineral
penyusun dominan adalah mineral-mineral mafik.
Struktur adalah penampakan hubungan
antar bagian-bagian batuan yang berbeda. Pengertian struktur pada batuan beku
biasanya mengacu pada pengamatan dalam skala besar atau singkapan di lapangan.
Pada bekuan beku, struktur yang sering ditemukan adalah :
- § Masif : Bila batuan pejal, tanpa retakan ataupun lubang-lubang gas.
- § Jointing : Bila batuan tampak mempunyai retakan-retakan. Penampakan ini akan mudah diamati pada singkapan di lapangan.
- § Vesikuler : Dicirikan dengan adanya lubang-lubang gas. Struktur ini dibagi lagi menjadi tiga, yaitu :
a) Skoriaan, bila lubang-lubang gas
tidak saling berhubungan.
b) Pumisan, bila lubang-lubang gas
saling berhubungan.
c) Aliran, bila ada penampakan aliran
dari kristal-kristal maupun lubang-lubang gas.
- § Amigdaloidal : Bila lubang-lubang gas telah terisi oleh mineral-mineral sekunder.
Tekstur
Batuan
Pengertian tekstur dalam batuan beku
mengacu pada penampakan butir-butir mineral di dalamnya, yang meliputi tingkat
kristalisasi, ukuran butir, bentuk butir, granularitas dan hubungan antar butir
(fabric). Jika warna batuan berkaitan erat dengan komposisi kimia dan
mineralogi, maka tekstur berhubungan dengan sejarah pembentukan dan
keterdapatannya. Tekstur merupakan hasil dari rangkaian proses sebelum, selama
dan sesudah kristalisasi. Pengamatan tekstur meliputi:
- § Tingkat Kristalisasi
Tingkat kristalisasi pada batuan
beku tergantung dari proses pembekuan itu sendiri. Bila pembekuan berlangsung
lambat maka akan terdapat cukup energi pertumbuhan kristal pada saat melewati
perubahan dari fase cair ke fase padat sehingga akan terbentuk kristal-kristal
yang berukuran besar. Bila penurunan suhu relatif cepat maka kristal yang
dihasilkan kecil-kecil dan tidak sempurna. Apabila pembekuan magma terjadi
sangat cepat maka kristl tidak akan terbentuk karena tidak ada energi yang
cukup untuk pengintian dan pertumbuhan kristal sehingga akan dihasilkan gelas.
Tingkat kristalisasi batuan beku
dapat dibagi menjadi :
- Holokristalin, jika mineral dalam batuan semua berbentuk kristal.
- Hipokristalin, jika sebagian berbentuk kristal sedangkan yang lain berbentuk mineral gelas.
- Holohyalin, hampir seluruh mineral terdiri dari gelas. Pengertian gelas disini adalah mineral yang tidak mengkristal atau amorf.
Batuan beku adalah batuan yang
terbentuk sebagai hasil pembekuan daripada magma. Magma adalah bahan cair pijar di dalam bumi, berasal dari bagian
atas selubung bumi atau bagian bawah kerak bumi, bersuhu tinggi (900 – 1300 oC)
serta mempunyai kekentalan tinggi, bersifat mudah bergerak dan cenderung menuju
ke permukaan bumi.Batuan beku merupakan batuan yang terjadi dai pembekuan
larutan silica cair dan pijar, yang kita kenal dengan nama magma. Karena tidak
adanya kesepakatan dari para ahli petrologi dalam mengklasifikasikan batuan
beku mengakibatkan sebagian klasifikasi dibuat atas dasar yang berbeda- beda.
Perbedaan ini sangat berpengaruh dalam menggunakan klasifikasi pada berbagai
lapangan pekerjaan dan menurut kegunaannya masing-masing. Bila kita dapat
menggunakan klasifikasi yang tepat, maka kita akan mendapatkan hasil yang
memuaskan.
Batuan
beku berasal dari hasil pendinginan dan pembekuan magma, dimana magma ini
merupakan suatu lelehan pijar yang terdiri dari zat-zat yang mobil yang panas
bersuhu antara 9000-12000 terbentuk secara alamiah yang merupakan senyawa
silikat dan magma juga mengandung gas.
Magma
berasal dari asteonosfer bumi, yaitu dibawah kerak bumi bagian bawah dan diatas
mantel bumi bagian atas. Magma dapat naik kepermukaan bumi adalah akibat
gaya-gaya yang terjadi didalam kerak bumi, yaitu pergerakan-pergerakan lempeng.
Lempeng yang bergerak saling menjauh akan mengakibatkan pemekaran kerak samudra sehingga memberikan kesempatan magma yang diasteonosfer naik kepermukaan. Magma yang berasal dari asteonosfer akan bersifat lebih basa daripada magma hasil dari pergesekan antara dua lempeng. Ini dipengaruhi oleh komposisi dari masing-masing lempeng yang bergesekan.
Lempeng yang bergerak saling menjauh akan mengakibatkan pemekaran kerak samudra sehingga memberikan kesempatan magma yang diasteonosfer naik kepermukaan. Magma yang berasal dari asteonosfer akan bersifat lebih basa daripada magma hasil dari pergesekan antara dua lempeng. Ini dipengaruhi oleh komposisi dari masing-masing lempeng yang bergesekan.
Diabas, juga disebut Dolerite,
halus sampai menengah-halus, abu-abu sampai hitam gelap batuan beku intrusif. Hal ini sangat keras dan sulit dan
umumnya digali untuk batu hancur , di bawah nama trap. Perangkap. Meskipun tidak populer, itu membuat batu
monumental yang sangat baik dan merupakan salah satu batuan berwarna gelap
komersial dikenal sebagai black granite . hitam granit. Diabas tersebar luas dan terjadi pada
tanggul (tabel tubuh dimasukkan ke dalam celah), kusen (badan tabel disisipkan
sementara cair antara batuan
lain), dan lainnya relatif kecil, tubuh dangkal.
Kimia
dan mineralogically, diabas mirip dengan batuan vulkanik
basal, tetapi agak kasar dan mengandung kaca. Dengan peningkatan ukuran butir, diabas
bisa lewat ke gabro. Sekitar sepertiga sampai dua pertiga dari batu kalsium
felspar plagioklas kaya, sisanya sebagian besar piroksen atau hornblende. Dalam diabas, kristal piroksen buruk
terbentuk membungkus atau cetakan terhadap panjang, kristal plagioklas persegi
panjang untuk memberikan tekstur karakteristik yang dikenal sebagai diabasic or ophitic. diabasic
atau ophitic.
Biji-bijian piroksen besar benar-benar dapat melampirkan plagioklas, tetapi
sebagai kuantitas meningkat terakhir, piroksen tampil lebih interstisial. Konsentrasi tersebut biasanya diyakini
telah dikembangkan oleh pengendapan kristal yang terbentuk di awal diabas cair.
Diabas
mungkin menunjukkan berbagai tingkat perubahan: plagioklas diubah menjadi
sassurite; piroksen hornblende untuk, actinolite, atau klorit, dan olivin dan
magnetit untuk serpentin.
Dalam
penggunaan Inggris, batuan diubah seperti ini disebut diabas. Beberapa massa diabas telah dibagi oleh
fraktur sistematis menjadi blok-blok empat persegi panjang. Perubahan berikutnya dan pelapukan di
sepanjang patah tulang ini telah hancur dan dibulatkan sudut dan tepi blok ( bulat pelapukan
), meninggalkan teratur spasi, massa spherelike menyelimuti diabas segar dengan
cangkang yang lebih progresif diubah dan hancur materi.
Diabas,
dalam petrologi , merupakan bentuk perubahan dari dolerite
. Ini sudah lama diterima secara luas bahwa pra- Tersier
batuan dari kelompok ini berbeda dari wakil-wakil mereka Tersier dan terbaru
dalam hal esensial tertentu, tapi harus
bisa dipertahankan, dan perbedaan diketahui hanya hasil paparan lama untuk
dekomposisi, tekanan dan geser, yang telah mengalami batuan yang lebih tua.
Mineral
dari diabas adalah sama dengan dolerite, yaitu. olivine,
augite, dan
plagioclase
felspar. Untuk hampir setiap variasi komposisi
dan struktur yang disajikan oleh diabases, mitra dapat ditemukan di antara
dolerites Tersier. Dalam batuan yang lebih tua, bagaimanapun, mineral tertentu
lebih umum daripada di baru. Hornblende, sebagian besar warna hijau pucat dan
kebiasaan agak berserat, sangat sering terjadi di diabas, melainkan dalam
banyak kasus sekunder setelah piroksen
, dan kemudian dikenal sebagai uralite, sering membentuk pseudomorphs yang
mempertahankan bentuk augite asli. Dimana diabases telah dihancurkan,
hornblende mudah berkembang dengan mengorbankan piroksen, kadang-kadang
menggantikan sepenuhnya.
Pada tahap selanjutnya dari perubahan yang amphibole menjadi kompak dan
mengkristal; batuan terdiri dari hornblende felspar plagioklas hijau dan, dan
kemudian umumnya dikenal sebagai epidiorites atau amphibolites
Pada
saat yang sama struktur schistose diproduksi.
Tetapi bentuk-bentuk transisi yang sangat umum, memiliki lebih atau kurang dari
augite tersisa, dikelilingi oleh hornblende baru terbentuk yang pada awalnya
agak berserat dan cenderung menyebar keluar melalui felspar sekitarnya. Klorit juga berlimpah baik di diabases
dicukur dan unsheared, dan dengan itu kalsit dapat membuat penampilan, atau kapur
dibebaskan dari augite dapat menggabungkan dengan titanium
dari besi oksida
dan dengan silika
membentuk incrustations atau perbatasan sphene
sekitar aslinya kristal ilmenit
.
Epidot
mineral lain kapur-bantalan sekunder yang dihasilkan dari dekomposisi dari
felspars soda kapur dan pyroxenes. Banyak diabases, terutama yang dari teschenite
sub-kelompok, yang diisi dengan zeolit. Diabases
yang sangat berlimpah di antara bebatuan yang lebih tua dari semua bagian dunia.. Mereka membentuk batu roadmending yang
sangat baik dan banyak digali untuk tujuan ini, yang tangguh, tahan lama dan tahan
aus, sehingga selama mereka tidak sangat membusuk. Banyak dari mereka yang
lebih disukai dengan dolerites segar sebagai kurang rapuh.
2. MINERAL
PIROPILIT
Secara kasat mata :
-
Kilapan
: sedikit ada kilapan-kilapan kecil berwarna putih
-
Warna
: putih kapur
-
Struktur
: berbutir halus dan berpasir
-
Tekstur
: kasar
Dilihat dengan microskop :
-
Kilapan
: terlihat tidak mengkilat
-
Warna
: putih, coklat dan hitam
-
Struktur
: berbutir halus, berpasir, berlapis, berkapur
Struktur
: berbutir halus, berpasir, berlapis, berkapur
-
Tekstur
: kasar
Gambar mineral piropilit
Piropilit adalah paduan dari alumunium silikat, yang
mempunyai rumus kimia Al2O3.4SiO2H2O. Mineral yang termasuk piropilit adalah
kianit, andalusit, dan diaspor. Bentuk kristal piropilit adalah monoklin serta
mempunyai sifat fisik dan kimia yang mirip dengan talk. Piropilit terbentuk umumnya berkaitan dengan formasi andesit tua
yang memiliki kontrol struktur dan intensitas ubahan hidrotermal yang kuat.
Piropilit terbentuk pada zone ubahan argilik lanjut (hipogen), seperti kaolin,
namun terbentuk pada temperatur tinggi dan pH asam. Kegunaan piropilit adalah untuk pakan ternak, industri kertas
sebagai pengganti talk, dan lain-lain . Piropilit terdapat di beberapa tempat yang diakibatkan
munculnya formasi andesit tua, seperti di Pulau Sumatera, Jawa Barat, Jawa
Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Pulau Sulawesi.
Kegunaan bahan Pyrophyllite:
1.
Mewujudkan beton ramah lingkungan (green
concrete). Hal ini disebabkan karena
mengurangi penglepasan CO2 ke udara sebagai salah satu penyebab rusaknya
lapisan ozon.
2. Meningkatkan
kekuatan tekan beton. Setelah
dilakukan metode pengujian tekan terhadap benda uji laboratorium dan analisis
data dengan uji anova serta regresi sehingga dapat diketahui hubungan antara
penambahan pyrophyllite dan kekuatan beton yang dihasilkan mencapai hingga 42
persen.
3. Penghematan
Semen. Dengan meningkatnya kuat tekan
beton terlihat pada indikasi penghematan penggunaan semen.
4. Menurunkan biaya produksi beton. Penggunaan pyrophyllite bisa menurunkan
fc` target yang bisa berdampak pada pengurangan penggunaan semen bahkan
menurunkan biaya produksi beton dan mengurangi emisi gas CO2.
5. sebagai bahan baku industri keramik dan
porselin.
BAB III. KESIMPULAN
Dari
uraian di atas, maka dapat di tarik kesimpulan bahwa batu diabas termasuk
kedalam kelompok batuan beku. Warna, kilapan, tekstur batuan itu sendiri jika
di lihat secara kasat mata tentu akan terlihat berbeda jika dilihat dengan
menggunakan microscop. Karena dengan menggunakan microskop dapat dilihat
bagian-bagian dari batu tersebut yang tidak terlihat dengan kasat mata. Mineral
piropilit juga dapat dilihat dengan microscop atau juga dengan kasat mata. Diabas, juga disebut Dolerite, halus sampai menengah-halus, abu-abu sampai
hitam gelap batuan beku intrusif. Diabas tersebar luas dan terjadi pada
tanggul (tabel tubuh dimasukkan ke dalam celah), kusen (badan tabel disisipkan
sementara cair antara batuan
lain), dan lainnya relatif kecil, tubuh dangkal. Diabas,
dalam petrologi , merupakan bentuk perubahan dari dolerite. Mineral
dari diabas adalah sama dengan dolerite, yaitu. olivine,
augite, dan
plagioclase
felspar. . Piropilit terbentuk umumnya berkaitan dengan formasi
andesit tua yang memiliki kontrol struktur dan intensitas ubahan hidrotermal
yang kuat. Piropilit terbentuk pada zone ubahan argilik lanjut (hipogen),
seperti kaolin, namun terbentuk pada temperatur tinggi dan pH asam. Kegunaan piropilit adalah untuk
pakan ternak, industri kertas sebagai pengganti talk, dan lain-lain .
Daftar Pustaka
http://www.MINERAL DAN BATUAN. Blog.html
http://www.Pyrophyllite Suppor Material Winner and Architecture Life.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar